Dalam upaya membangun ketahanan bangsa terhadap bencana, fokus seringkali tertuju pada orang dewasa dan badan pemerintah. Namun, Palang Merah Indonesia (PMI) menyadari bahwa anak-anak dan remaja memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dan penyelamat di lingkungannya sendiri. Melalui program Palang Merah Remaja (PMR), PMI secara sistematis Melatih PMR untuk kesiapsiagaan, tidak hanya sebagai penerima manfaat tetapi sebagai kontributor aktif dalam respons darurat. Langkah ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sadar risiko dan empati.
Program Melatih PMR mencakup tiga tingkatan: PMR Mula (SD), PMR Madya (SMP), dan PMR Wira (SMA), dengan kurikulum yang disesuaikan usia. Fokus utama pelatihan ini adalah pada tujuh materi pokok, termasuk Pertolongan Pertama, Kesiapsiagaan Bencana, dan Donor Darah Sukarela. Hal ini memastikan bahwa anggota PMR memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk bertindak secara efektif ketika terjadi krisis.
Sebagai contoh, pada hari Jumat, 5 Juli 2024, di kawasan sekolah SMP Negeri 4, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, PMI mengadakan simulasi gempa bumi yang diikuti oleh 150 anggota PMR Madya. Melatih PMR dalam konteks ini berarti mengajarkan keterampilan praktis yang sesuai dengan kapasitas mereka. Mereka dilatih untuk melakukan evaluasi cepat setelah guncangan (memastikan lingkungan aman), membantu evakuasi teman sebaya yang terluka ringan, dan yang terpenting, menjalankan Pertolongan Pertama Psikologis (PFP) bagi teman-teman yang mengalami kepanikan hebat.
Salah satu anggota PMR, seorang siswi kelas 8 bernama Desi Arisanti, menunjukkan keahliannya dalam membidai simulasi patah tulang lengan bawah menggunakan majalah bekas dan kain segitiga—teknik yang diajarkan dalam kurikulum Melatih PMR. Keahlian ini sangat berharga karena di sekolah, biasanya murid adalah yang pertama merespons sebelum guru atau staf medis tiba. Data dari Puskesmas Bantul menunjukkan bahwa penanganan cedera awal yang tepat oleh anggota PMR di lingkungan sekolah telah mengurangi tingkat keparahan luka pada beberapa insiden kecil di tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, PMI juga menekankan pentingnya koordinasi. Anggota PMR tidak hanya beraksi sendiri. Mereka dilatih untuk bekerjasama dengan pihak sekolah dan aparat keamanan setempat. Dalam simulasi di Bantul tersebut, Koordinator PMR Kabupaten, Bapak Sigit Handoko, memastikan bahwa anggota PMR berkoordinasi dengan petugas keamanan sekolah dan petugas Kepolisian Sektor Bantul, Aiptu Suroso, yang memimpin pengamanan jalur evakuasi menuju titik kumpul. Aiptu Suroso bertugas memastikan tidak ada kemacetan di pintu gerbang utama selama proses evakuasi.
PMI percaya bahwa Melatih PMR bukan hanya tentang menghasilkan calon relawan, tetapi juga tentang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepemimpinan sejak dini. Anak-anak yang sadar akan pentingnya kesiapsiagaan dan saling tolong-menolong akan tumbuh menjadi masyarakat yang lebih tangguh dan resilien di masa depan. Mereka adalah garis depan yang paling muda, tetapi memiliki semangat yang paling besar.
