Palembang, dengan topografi yang didominasi oleh perairan sungai, kembali menghadapi tantangan alam pada periode puncak musim hujan di awal tahun ini. Kejadian Banjir Palembang Februari 2026 telah menggenangi beberapa kawasan padat penduduk, menyebabkan aktivitas ekonomi lumpuh di titik-titik tertentu. Selain kerugian material, ancaman yang paling nyata bagi para pengungsi dan warga yang bertahan di rumah adalah penurunan kualitas kesehatan akibat paparan air kotor dan cuaca yang tidak menentu. Penyakit kulit, diare, dan leptospirosis menjadi risiko tinggi yang perlu diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang bergerak cepat dengan mendirikan sejumlah Daftar Posko Kesehatan di wilayah-wilayah terdampak paling parah. Posko-posko ini berfungsi sebagai pusat pertolongan pertama serta distribusi obat-obatan dasar bagi warga yang mulai merasakan gejala penyakit akibat banjir. Selain memberikan pengobatan medis, tim relawan di posko juga bertugas memantau status gizi anak-anak di tempat pengungsian dan memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan meskipun dalam keterbatasan air bersih.
Keunggulan dari layanan kemanusiaan ini adalah komitmen personel PMI yang Aktif di lapangan guna memastikan tidak ada warga yang terlewatkan bantuannya. Tim medis yang terdiri dari dokter, perawat, dan sukarelawan terlatih disiagakan untuk memberikan respon cepat terhadap keluhan warga. Di tahun 2026, koordinasi antar posko dilakukan dengan sistem informasi terpadu, sehingga jika ada pasien yang membutuhkan penanganan lebih serius, proses evakuasi menggunakan ambulans air atau kendaraan taktis menuju rumah sakit rujukan dapat dilakukan tanpa penundaan yang berarti.
Yang menjadi fokus utama pelayanan di tahun ini adalah operasional selama 24 Jam penuh, terutama di area pengungsian utama seperti stadion atau gedung olahraga yang dialihfungsikan. Banjir sering kali membawa kondisi darurat medis pada malam hari, seperti demam tinggi pada balita atau luka akibat benda tajam yang terendam air. Dengan adanya petugas yang berjaga sepanjang hari dan malam, warga merasa lebih tenang dan terlindungi. Kehadiran posko ini juga menjadi tempat warga mendapatkan informasi valid mengenai perkembangan debit air sungai dan prakiraan cuaca, sehingga mereka bisa mengambil keputusan yang tepat untuk tetap bertahan atau mengungsi.
