Nasib Peternak Ayam Petelur Jatim di Ujung Tanduk

Industri peternak ayam petelur di Jawa Timur (Jatim) kini menghadapi tantangan berat. Harga telur yang fluktuatif dan biaya produksi yang terus melonjak menempatkan para peternak di ujung tanduk. Banyak peternak skala kecil dan menengah terancam gulung tikar jika situasi ini terus berlanjut tanpa intervensi.

Kenaikan harga pakan, khususnya jagung dan konsentrat, menjadi pemicu utama. Bahan baku pakan yang mayoritas impor membuat peternak rentan terhadap gejolak pasar global. Sementara itu, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menahan harga jual telur di pasaran. Kondisi ini menekan margin keuntungan secara drastis.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PIR) Jawa Timur, Sutrisno, menyampaikan keprihatinannya. “Banyak peternak sudah merugi berbulan-bulan,” ujarnya. Ia berharap pemerintah segera turun tangan mencari solusi konkret. Kebijakan stabilisasi harga pakan dan telur sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan sektor ini.

Lonjakan harga pullet (ayam petelur muda) juga memperparah kondisi. Peternak harus mengeluarkan modal lebih besar untuk penggantian bibit. Di sisi lain, harga telur yang tidak sebanding dengan biaya produksi membuat mereka kesulitan memutar modal. Ini menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

Selain itu, ancaman penyakit pada unggas juga menambah beban. Biaya vaksinasi dan obat-obatan yang tidak murah menjadi pengeluaran tambahan. Meskipun pemerintah telah berupaya menekan penyebaran penyakit, namun risiko kerugian akibat kematian massal ayam tetap membayangi para peternak.

Pemerintah Provinsi Jatim didorong untuk segera merumuskan kebijakan yang berpihak pada peternak. Subsidi pakan, kemudahan akses modal, dan pengawasan harga pasar yang ketat menjadi harapan. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi sangat diperlukan untuk menemukan solusi jangka panjang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pasokan telur di Jatim akan terganggu. Peternak yang menyerah akan mengurangi populasi ayam petelur, berpotensi memicu kelangkaan dan kenaikan harga yang tidak terkendali di kemudian hari. Stabilitas pangan lokal menjadi taruhannya.

Oleh karena itu, nasib ribuan peternak ayam petelur di Jatim bergantung pada respons cepat dari berbagai pihak. Masa depan industri perunggasan rakyat ini harus diselamatkan. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan semua pihak, semoga sektor strategis ini dapat kembali bangkit dan berjaya.