Materi utama yang diajarkan dalam kegiatan ini adalah teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau yang secara internasional dikenal dengan sebutan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). PMI Palembang membawa peralatan simulasi modern berupa manekin digital yang dapat memberikan umpan balik secara real-time mengenai kedalaman dan kecepatan kompresi dada yang dilakukan peserta. Hal ini sangat penting karena melakukan RJP tidak bisa dilakukan secara sembarangan; diperlukan ketepatan posisi tangan dan ritme yang stabil agar aliran oksigen ke otak tetap terjaga. Pelatihan ini dirancang sedemikian rupa agar terasa praktis dan mudah dipahami, sehingga rasa takut atau ragu pada warga dapat dihilangkan.
Target utama dari inisiatif ini adalah memberikan pembekalan kepada masyarakat awam, termasuk pengemudi transportasi daring, petugas keamanan gedung, guru, hingga ibu rumah tangga. PMI Palembang percaya bahwa semakin banyak orang yang menguasai teknik ini, semakin tinggi tingkat keberlangsungan hidup korban henti jantung di wilayah tersebut. Dalam sesi pelatihan, para peserta juga diajarkan cara mengenali tanda-tanda awal serangan jantung dan bagaimana melakukan koordinasi panggilan darurat yang efektif. Edukasi ini memberikan kepercayaan diri kepada warga bahwa mereka memiliki peran penting dalam rantai penyelamatan nyawa manusia.
Keberhasilan acara ini juga terlihat dari antusiasme peserta yang melampaui target awal. Banyak warga yang menyadari bahwa pengetahuan mengenai Resusitasi Jantung Paru adalah keterampilan hidup (life skill) yang wajib dimiliki di era modern. Selain praktek fisik, PMI juga menyisipkan materi mengenai penggunaan alat AED (Automated External Defibrillator) yang kini mulai banyak terpasang di fasilitas publik di Palembang. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya sekadar tahu cara menekan dada, tetapi juga paham bagaimana mengoperasikan teknologi medis yang sudah disediakan oleh pemerintah kota untuk kepentingan darurat.
Melalui program ini, PMI Palembang ingin menghapus stigma bahwa urusan menyelamatkan nyawa hanyalah tugas dokter atau perawat. Keterlibatan masyarakat awam adalah kunci dari sistem kesehatan masyarakat yang tangguh. Pelatihan ini diselenggarakan secara berkala di berbagai kecamatan agar jangkauan pengetahuannya merata di seluruh penjuru kota. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah terciptanya budaya peduli sesama, di mana warga tidak lagi hanya menjadi penonton saat ada orang yang terjatuh pingsan, melainkan secara sigap melakukan tindakan penyelamatan yang sesuai prosedur medis dasar.
