Program PMI masuk sekolah ini dirancang dengan materi yang interaktif dan mudah diserap oleh anak-anak maupun remaja. Materi yang disampaikan mencakup cara mengenali arus sungai yang berbahaya, teknik dasar mengapung (water trappen), hingga cara menolong teman yang tenggelam tanpa harus ikut terjun ke air jika tidak memiliki keahlian khusus. Seringkali, kecelakaan di sungai terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai kedalaman air atau adanya pusaran arus di bawah permukaan yang terlihat tenang. Dengan memberikan simulasi sederhana di lingkungan sekolah, diharapkan para siswa memiliki kewaspadaan yang lebih tinggi dan tidak meremehkan risiko saat bermain atau beraktivitas di sekitar pinggiran sungai.
Kawasan perairan di Sumatera Selatan memiliki karakteristik unik dengan banyaknya aktivitas warga di sepanjang aliran sungai, sehingga diperlukan kesiapan tim penyelamat melalui unit rescue perairan Palembang yang handal untuk menangani kondisi darurat. Kehadiran tim rescue perairan Palembang yang responsif sangat penting, namun langkah pencegahan sejak dini melalui edukasi jauh lebih efektif dalam menekan angka fatalitas. Melalui inisiatif Safety Water, Palang Merah Indonesia (PMI) mulai menjalankan program masuk sekolah untuk memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai bahaya dan prosedur keselamatan saat berada di lingkungan perairan, khususnya sungai Musi yang menjadi denyut nadi kehidupan warga.
Edukasi mengenai pencegahan kecelakaan di air juga melibatkan pengenalan terhadap alat keselamatan sederhana yang ada di sekitar masyarakat. Siswa diajarkan bagaimana memanfaatkan benda-benda terapung seperti jerigen kosong atau ban bekas sebagai alat bantu pernapasan sementara bagi korban yang mengalami kesulitan di air. Penekanan pada aspek “jangan panik” menjadi poin utama dalam pelatihan ini, karena sebagian besar kasus tenggelam di perairan sungai diperparah oleh kepanikan yang membuat korban kehilangan kendali atas gerak tubuhnya. Para relawan PMI yang bertugas sebagai instruktur juga memberikan demonstrasi bantuan hidup dasar (BHD) jika korban sudah berhasil dievakuasi ke daratan.
Kondisi perairan sungai di wilayah Palembang yang seringkali memiliki visibilitas rendah atau air yang keruh menambah tingkat kesulitan dalam upaya penyelamatan mandiri. Oleh karena itu, melalui program ini, sekolah-sekolah didorong untuk membentuk duta keselamatan air di kalangan siswa. Duta ini bertugas untuk saling mengingatkan rekan-rekannya agar tidak berenang di area yang dilarang atau saat cuaca buruk di mana debit air sungai meningkat drastis. Kerja sama antara PMI, pihak sekolah, dan orang tua murid menjadi kunci keberhasilan program ini agar pesan keselamatan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah yang dekat dengan sungai.
