Protokol Tenggelam di Sungai Musi: Teknik Pemulihan Paru PMI Palembang

Sungai Musi bukan hanya menjadi ikon pariwisata Kota Palembang, tetapi juga pusat aktivitas transportasi dan ekonomi masyarakat Sumatera Selatan. Namun, dinamika sungai yang memiliki arus deras dan kedalaman yang bervariasi ini juga membawa risiko kecelakaan air yang tinggi, mulai dari anak-anak yang berenang hingga penumpang kapal yang terjatuh. Menghadapi ancaman tersebut, PMI Kota Palembang telah menetapkan sebuah standar operasional yang ketat dalam penanganan kegawatdaruratan air. Penerapan protokol penyelamatan dan pemulihan fungsi pernapasan menjadi kunci utama dalam upaya menyelamatkan nyawa korban tenggelam sebelum mereka mengalami kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.

Tahap awal dalam penanganan korban tenggelam di perairan tawar seperti Sungai Musi adalah pembersihan jalan napas segera setelah korban dievakuasi ke daratan atau ke atas perahu penyelamat. Fakta medis menunjukkan bahwa air tawar yang masuk ke dalam sistem pernapasan dapat dengan cepat terserap ke dalam aliran darah dan merusak surfaktan paru-paru, yang mengakibatkan kegagalan pertukaran gas. Relawan PMI dilatih untuk melakukan teknik bantuan hidup dasar secara agresif, termasuk pemberian napas buatan dan kompresi dada yang berkualitas tinggi. Fokus utama adalah mengembalikan fungsi sirkulasi dan oksigenasi sesegera mungkin guna mencegah terjadinya hipoksia jaringan yang fatal.

Selain tindakan fisik di tempat kejadian, manajemen hipotermia juga menjadi bagian penting dari penanganan ini. Meskipun suhu udara di Palembang relatif panas, berada di dalam air sungai dalam waktu lama dapat menurunkan suhu inti tubuh secara signifikan. Korban yang kedinginan akan mengalami penurunan metabolisme yang membuat proses resusitasi menjadi lebih sulit. Tim PMI membekali diri dengan perlengkapan penghangat dan pakaian kering untuk menjaga suhu tubuh korban agar tetap stabil selama perjalanan menuju rumah sakit rujukan. Setiap detik sangat berharga, dan koordinasi yang baik antara tim di lapangan dengan unit ambulans sangat menentukan keberhasilan penyelamatan.

Teknik pemulihan paru yang diterapkan mencakup penggunaan alat bantu napas portabel seperti Bag Valve Mask (BVM) yang mampu memberikan konsentrasi oksigen lebih tinggi dibandingkan napas buatan manual. Relawan dididik untuk tidak hanya memberikan bantuan udara, tetapi juga memantau respons dada korban secara berkala. Kesalahan umum dalam menolong korban tenggelam, seperti mencoba mengeluarkan air dari perut dengan cara menekan perut terlalu keras, harus dihindari karena dapat memicu aspirasi muntahan ke dalam paru-paru. Edukasi mengenai prosedur yang benar secara medis ini terus disosialisasikan kepada masyarakat di pinggiran sungai agar mereka tidak salah langkah saat memberikan bantuan pertama.