Bencana alam sering kali menyisakan krisis lain yang tak kalah serius, yaitu krisis air bersih dan sanitasi. Di tengah kondisi darurat, fasilitas dasar seringkali rusak atau tidak berfungsi, memaksa para pengungsi bergantung pada bantuan. Program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) menjadi pilar utama dalam Memastikan Akses Air Bersih dan sanitasi yang layak di lokasi pengungsian. Tujuannya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk mencegah penyebaran penyakit menular yang rentan terjadi di lingkungan padat seperti kamp pengungsian.
Pada tanggal 27 Agustus 2025, tim WASH PMI Kabupaten Lumajang, yang didukung oleh 12 personel gabungan dari relawan dan petugas kesehatan, dikerahkan ke lokasi pengungsian pasca-banjir di Desa Sumber Rezeki. Tim ini membawa serta dua unit truk tangki air bersih berkapasitas masing-masing 5.000 liter dan dua unit toilet portabel. Data dari posko induk menunjukkan bahwa terdapat 850 pengungsi yang terdiri dari 420 pria, 350 wanita, dan 80 anak-anak yang terpusat di dua titik pengungsian utama. Kebutuhan air per orang di situasi darurat diperkirakan mencapai 15 liter per hari. Berdasarkan perhitungan ini, total kebutuhan air harian di lokasi tersebut mencapai 12.750 liter, melebihi kapasitas awal yang tersedia.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pada 28 Agustus 2025, tim WASH PMI berkoordinasi dengan Korps Brimob Polri yang menyediakan satu unit truk tangki air tambahan. Kolaborasi ini memastikan bahwa pasokan air tercukupi. Selain itu, tim juga mendirikan 10 titik keran air darurat untuk memudahkan distribusi dan mengurangi antrean. Pihak kepolisian juga membantu mengamankan area distribusi untuk memastikan proses berjalan tertib dan aman. Edukasi mengenai pentingnya penggunaan air secara bijak juga diberikan kepada para pengungsi.
Aspek sanitasi juga menjadi fokus penting dalam program ini. Tim WASH membangun 20 unit jamban darurat dan 10 unit tempat cuci tangan yang dilengkapi sabun. Setiap jamban dirancang untuk digunakan oleh maksimal 20 orang guna menjaga kebersihan dan mencegah penularan penyakit. Penempatan jamban-jamban ini juga diatur dengan jarak aman dari sumber air untuk menghindari kontaminasi. Petugas kesehatan dari Puskesmas setempat, yang bertugas sejak 27 Agustus 2025, secara rutin memberikan penyuluhan tentang praktik kebersihan diri dan lingkungan yang benar kepada para pengungsi. Mereka juga memantau kondisi kesehatan para pengungsi, terutama anak-anak, untuk mendeteksi dini penyakit seperti diare dan kolera yang sering muncul akibat sanitasi yang buruk.
Dengan Memastikan Akses Air Bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai, Program WASH terbukti efektif dalam meminimalisir risiko kesehatan di lokasi pengungsian. Pada 10 September 2025, dua minggu setelah operasi dimulai, tidak ada laporan kasus penyakit yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur dasar dan promosi kesehatan di masa tanggap darurat adalah langkah krusial. Program ini tidak hanya menyediakan air bersih dan sanitasi, tetapi juga membangun kembali martabat dan harapan bagi para korban bencana. Ketersediaan air bersih adalah hak dasar yang harus dipenuhi, dan program WASH memastikan hak tersebut tidak terabaikan di tengah musibah.
